Terinspirasi oleh cerita salah seorang teman, saya jadi ingin berbagi cerita. Selama ini mengalah seringkali dihubungkan dengan faktor usia. Misalnya kakak mengalah dengan adik. Tapi tidak demikian yang terjadi di dalam keluarga kami.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang demokratis. Setiap anggota keluarga diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya masing2. Biasanya kami menggunakan waktu makan malam untuk berbicara. Ketika keluarga lain memiliki aturan “kalau makan jangan ngomong”, dalam keluarga kami, kami diperbolehkan berbicara. Saat makan malam adalah saat seluruh anggota keluarga berkumpul.
Saya adalah bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakak saya adalah laki2.. Beberapa orang yang saya temui yang mengetahui kalo saya adalah anak bungsu dengan 2 saudara laki2 berkata “Waah.. enak ya, perempuan satu2nya”. Enak? Pikir saya saat itu.. Bersaudara dengan 2 laki2 badung seperti mereka?
Dengan 2 saudara laki2, saya tumbuh menjadi anak perempuan yang pemberani, tidak manja dan mandiri.. Thank to them.. Bagaimana tidak? Dengan 2 kakak laki2 saya diajarkan bermain layang2, panjat2an dan pukul2an..!!
Saya bersyukur mempunyai mama dan bapak (begitu saya memanggil kedua orang tua saya) yang tidak membeda2kan anak2nya.. Dalam keluarga kami semua anggota keluarga pernah merasakan yang namanya mengalah.. hanya saja diistilahkan dengan “gantian sama yang lain”. Jadi, ketika kakak sulung saya membutuhkan sepatu, maka adik2nya baru akan mendapatkan barang yang dibutuhkan di bulan berikutnya..
Kakak sulung saya terpaut 3 tahun di atas saya, sedang kakak kedua hanya 1 tahun. Dengan 2 kakak laki2 di atas saya, otomatis saya memiliki banyak “warisan” sehingga saya jarang membeli celana jeans.. mengingat adanya warisan celana jeans yang banyak dari kakak2 saya. Belum lagi sepatu keds hitam untuk sekolah, lalu buku2 pelajaran.
Ketika kakak sulung saya mendapatkan buku baru, kakak kedua mendapatkan warisan, maka saya mendapatkan harta karun… Bagaimana tidak, ketika buku2 tersebut sampai pada saya, kondisinya pasti sudah tidak mulus.. tak jarang buku itu mengeriting di pinggirnya (bahasa Jawa-nya menglinthing?!
). Ibu saya pun menyetrika buku tersebut dengan penuh kasih sehingga nampak lurus seperti baru..
Karena cerita ini versi saya, si bungsu.. Maka saya akan menceritakannya dengan sudut pandang saya.
Sebagai bungsu, saya merasa saya yang paling banyak mengalah.. bagaimana tidak. Ketika kakak saya mendapatkan barang baru saya harus mengalah menerima semua warisan2 dari kakak saya. Begitupun jika ada acara family gathering yang diadakan di kantor tempat ayah saya bekerja. Ketika awalnya kami bertiga yang ikut.. lambat laun tinggal saya dan kakak kedua saya.. Lalu akhirnya tinggal saya saja yang ikut. Kakak2 saya yang sudah beranjak besar pasti menolak dengan alasan “Malu ah udah gedhe.. yang ikut anak2 kecil semua”. Karena acara ini family gathering, sangat aneh rasanya kalau hanya bapak dan mama saya saja yang mengikutinya.. sehingga sayapun mengalah untuk akhirnya selalu hadir dan mengikuti kegiatan tersebut sampai saya SMA (atau bahkan sampai kuliah..
).
Begitu pun saat saya memutuskan untuk masuk perguruan tinggi. Kedua orang tua saya tidak memperbolehkan saya untuk kuliah di luar kota, dengan alasan anak perempuan, kuliahnya dekat dengan orang tua saja..
Saya pun menghabiskan waktu yang paling banyak bersama dengan bapak mama saya, dan saya bersyukur karena saya mendapatkan banyak pelajaran hidup dari beliau..
Demikian saya buat tulisan ini hanya untuk berbagi.. dan saya pun ingin menyampaikan bahwa Mengalah itu bukan cuma milik kakak…
Semoga bermanfaat…


